Kupas Tuntas Hilirisasi Inovasi, Workshop Bina Talenta STIA Pembangunan Hadirkan Solusi Strategis Pengentasan Kemiskinan

Kupas Tuntas Hilirisasi Inovasi, Workshop Bina Talenta STIA Pembangunan Hadirkan Solusi Strategis Pengentasan Kemiskinan

Selasa, 07 Jul 2026, 15:14:45 WIB - 75 Hit

Stiapembangunanjember.ac.id – Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Jember sukses menyelenggarakan kegiatan "Workshop Bina Talenta" pada hari Selasa, 07 Juli 2026, bertempat di Aula Surachmad STIA Pembangunan Jember. Acara yang mengusung tema besar "Sinergi Kemitraan Diktisaintek Berdampak: Akselerasi Pendidikan Berkualitas dan Hilirisasi Inovasi guna Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan" ini menghadirkan pemaparan materi berbobot dari para akademisi dan pemangku kebijakan. 
Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan sambutan dari Ketua STIA Pembangunan, Dr. Asmuni, S.Sos., M.AP., yang kemudian dilanjutkan dengan sesi Keynote Speech oleh H. Muhammad Nur Purnamasidi, S.Sos., M.Si., selaku Anggota Komisi X DPR RI. Usai sesi seremonial, forum beralih pada pemaparan materi inti dari tiga narasumber utama yang menyoroti peran strategis pendidikan tinggi. 
Materi pertama disampaikan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM., yang membawakan gagasan mengenai visi "Diktisaintek Berdampak" menuju Indonesia Emas 2045. Prof. Dyah menekankan pentingnya pergeseran orientasi mutu perguruan tinggi dari yang sekadar berorientasi Output menjadi berorientasi Outcome dan Impact. 
Ia memaparkan bahwa paradigma lama yang hanya mengejar kuantitas penelitian dan publikasi harus diubah menjadi penelitian yang menyelesaikan masalah dan publikasi yang menghasilkan solusi bagi masyarakat. Untuk mengakselerasi hal ini, diukur melalui 12 Indikator Kinerja Utama (IKU) Berdampak yang terintegrasi dalam perjanjian kinerja. Prof. Dyah juga memperkenalkan program "Kakak Tangguh" (Kampus untuk Komunitas Lebih Tangguh), sebuah kolaborasi strategis antara Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah di Jawa Timur untuk mengintervensi masalah kemiskinan dan kesehatan langsung di tingkat desa melalui skema pemberdayaan masyarakat. 
Dari perspektif sektoral, pemateri kedua, Dr. Iryono, S.P., M.P., mempresentasikan materi berjudul "Membangun Ekosistem SDM Unggul untuk Industri Tembakau Nasional". Beliau menjelaskan bahwa rantai kemiskinan di era transisi pembangunan dapat diputus melalui penyediaan SDM mumpuni bagi industri tembakau yang padat karya. 
Dr. Iryono menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi wajib memiliki status Job-Ready (siap kerja) untuk mengisi fungsi operasional dan supervisi demi menggerakkan ekonomi akar rumput. Sebagai solusi penyelarasan antara kurikulum kampus dan kebutuhan industri, ia merekomendasikan pembangunan ekosistem Teaching Factory di lingkungan kampus, seperti penyediaan fasilitas mini-barn simulasi dan ruang grading kelayakan tembakau. Mahasiswa juga didorong untuk menguasai kompetensi teknis, soft skills, kesadaran K3L (Keselamatan Kerja & Lingkungan), hingga meraih sertifikasi profesional seperti Good Agricultural Practices (GAP) dan HACCP. 
Materi penutup disampaikan oleh Dr. Hj. Nungky Viana Feranita, S.T., M.M., dengan tajuk "Mahasiswa Berdampak: Membangun Inovasi dan Kemitraan untuk Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan". Beliau menyoroti bahwa kemiskinan di Indonesia bersifat multi-dimensi, sehingga membutuhkan mahasiswa yang mampu bertindak sebagai Problem Solver dan inisiator hilirisasi inovasi. 
Dr. Nungky menekankan bahwa mahasiswa memiliki tiga modal utama yang harus disinergikan: Knowledge (Pengetahuan), Idealism (Idealisme), dan Creativity (Kreativitas). Ia juga mendorong implementasi aksi nyata yang berlandaskan kemitraan Model Pentahelix, yang menyatukan peran Akademisi, Masyarakat, Bisnis, Pemerintah, dan Media. 
"Inovasi menjadi bermakna ketika menyelesaikan masalah," pesannya dalam materi tersebut. Ia membekali mahasiswa dengan peta jalan aksi nyata yang dimulai dari menemukan masalah di lingkungan sekitar, memvalidasi dengan data, merancang solusi sederhana yang berdampak, melaksanakan proyek, hingga mendokumentasikannya sebagai portofolio karier profesional. (*)